Update : Selasa, 07/09/2010
 
Nusantara

Munas VII HKTI di Bali Berakhir dengan Munculnya Dua Ketua Umum

Musyawarah Nasional (Munas) ke-VII HKTI (Himpunan Kerukunan Tani Indonesia) yang berlangsung dari tanggal 12 s/d 15 Juli 2010 di Bali, di samping menghasilkan program kerja dan menyetujui laporan pertanggungjawaban kepengurusan tahun 2004 s/d 2009 juga berakhir dengan munculnya dua Ketua Umum. 

Berdasarkan laporan pandangan umum dari wakil-wakil propinsi secara aklamasi Prabowo Subianto diangkat kembali menjadi Ketua Umum, sedangkan melalui voting yang diikuti perwakilan propinsi dan kabupaten/kota, Dr. Osman Sapta Odang (OSO) berhasil meraih angka tertinggi untuk jabatan Ketua Umum masa bakti tahun 2010 s/d 2015.

Munas ke-VII HKTI yang berlangsung di Bali dibuka secara resmi oleh Menteri Pertanian Ir. Suswono dan dihadiri oleh Gubernur Bali Made Mangku Swastika, Ketua BPO DPN HKTI Ir. Siswono Yudhohusodo, Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Dr. Mohamad Jafar Hafsah, wakil HKTI propinsi, kabupaten/kota dari seluruh Indonesia dan undangan lainnya. Selama berlangsungnya Munas juga diselenggarakan kongres tani dengan pembicara Prof. Dr. Bungaran Saragih dan Dr. Rochmin Dahuri.

Berpartisipasi
Menteri Pertanian dalam sambutannya pada Munas ke-VII HKTI tersebut menegaskan, hendaknya kepada organisasi pertanian untuk ikut aktif dalam pembangunan pertanian. Oleh karena itu dirinya apresiasi atas komitmen HKTI yang menjadi mitra pemerintah. ”Namun persoalannya yang kita hadapi petani sekarang ini adalah kecilnya lahan pertanian yang digarap dan alih fungsi lahan pertanian yang sulit dibendung untuk pemukiman dan industri, sehingga sulit untuk meningkatkan kesejahteraan.

Di sela-sela Munas ke-VII HKTI kepada pers di Sanur Bali, Menteri Pertanian mengakui, bahwa kini terjadi kondisi perubahan cuaca yang cukup ekstrim, sehingga menyulitkan pola tanam, namun masih beruntung pada tahun ini pangan masih cukup baik. Dari hasil laporan yang diperoleh tingkat kehilangan produksi akibat masih di bawah rata-rata lima tahun, bahkan untuk produksi beras angka ramalannya mengalami peningkatan 1,27%.

Perubahan cuaca yang cukup ekstrim kali ini ternyata berdampak buruk bagi sektor pertanian. Sebab selain banyaknya muncul hama, tingkat produksi juga akan mengalami penurunan, sehingga sudah saatnya kita mengurangi konsumsi beras dengan mengganti umbi-umbian, seperti ketela serta sumber protein lainnya. ”Pengurangan konsumsi beras ini tidak terfokus pada nasi, tetapi juga sumber karbohidrat lain”, ujar Suswono lebih lanjut.

Tidak Boleh Diabaikan
Ketua Umum DPN HKTI periode 2004 s/d 2009 Prabowo Subianto mengemukakan, HKTI berkeinginan menjadi mitra kerja yang baik bagi pemerintah. Namun demikian mempunyai kewajiban untuk melindungi kepentingan anggotanya khususnya petani yang tidak boleh diabaikan, misalnya kalau penguasa menyimpang dari kepentingan nasional perlu diingatkan dengan sabaik-baiknya. ”Oleh karena itu HKTI harus independent menjadi mitra yang kritis dan loyal kepada pemerintah”, ujar Prabowo lebih lanjut.

Sementara itu Ketua Badan Pertimbangan Organisasi (BPO) DPN HKTI Siswono Yudhohusodo mengharapkan agar organisasi HKTI tidak menjadi alat mengumpul masa bagi partai politik dan melibatkan diri dalam kegiatan politik praktis ke dalam partai politik. ”Pimpinan HKTI pada tingkat pusat dan daerah harus benar-benar fokus memperjuangkan kepentingan petani”, ujar Siswono yang juga menjadi Ketua Umum HKTI periode 1999 s/d 2004.

Pengurus HKTI juga harus memfokuskan diri pada pembangunan pertanian di Indonesia dan hal ini harus menjadi pedoman di masa mendatang. Misalnya anggaran pemerintah untuk pemberdayaan petani baik yang langsung maupun tidak langsung jumlahnya cukup besar namun efektifitasnya masih dirasakan kurang. Program PUAP, LM3 dan lainnya yang melibatkan 10.000 Gapoktan dengan nilai Rp. 1 triliun dan Rp. 350,- miliar tidak berkembang atau tidak efektif memberdayakan petani.

Arsip