MERENUNGI IMPOR IKAN
Ada berita biasa yang terasa menjadi luar biasa karena disajikan dengan bahasa yang menyentuh hati. Berita itu tentang melonjaknya impor ikan selama triwulan pertama tahun ini.
Tercatat impor ikan mencapai 77 juta dolar AS atau melonjak 32 persen dibanding periode sama tahun lalu yang hanya 58 juta dolar AS. Sebuah sumber menyebutkan lonjakan impor ikan ini terutama dipicu oleh perjanjian perdagangan bebas Asean-China serta kebutuhan pasar domestik yang cenderung naik.
Lonjakan impor ini mungkin sudah biasa karena selama ini kita memang menjadi importir ikan beku dan segar serta tepung ikan. Namun yang membuat kita ‘terharu’ dan kemudian merenung adalah ketika kita disadarkan bahwa kita adalah negeri bahari yang dikelilingi lautan luas.
Pertanyaannya, mengapa lautan luas yang mengelilingi negeri ini tidak bisa menghasilkan limpahan ikan sebagaimana negara-negara bahari lainnya. Bahkan kita bisa menyaksikan beberapa negara yang lautannya terbatas justru bisa menjadi produsen ikan terkemuka di dunia.
Kita juga telah mengekspor ikan tuna, octopus, kakap merah, tenggiri dan berbagai jenis ikan lainnya. Data juga menunjukkan angka pertumbuhan ekspor cenderung terus naik, bahkan pada triwulan pertama tahun ini naik sebesar 8%.
Namun kita tentu prihatin kalau impor produk ikan justru terus melonjak, yang pada akhirnya menjebak kita menjadi negara importir ikan. Pengalaman kita menjadi importir beras, padahal kita adalah negara agraris, bisa menjadi pelajaran berharga bagi mereka yang mengelola kebijakan di sektor perikanan dan kelautan.
Banyak hal yang tentu harus kita benahi ketika kita berkeinginan menekan angka impor ikan sekaligus meningkatkan ekspor ikan. Masalah terbesar bukan pada potensi sumberdaya laut, namun lebih banyak pada kemampuan mengeksplorasi sumberdaya laut itu.
(Untuk informasi lebih lengkapnya silahkan berlangganan Tabloid SINAR TANI. SMS ke : 081584414991)


