ANGKA RAMALAN I, KENAIKAN HET PUPUK dan PERAN PENYULUH
Badan Pusat Statistik telah merilis Angka Ramalan I (ARAM I) produksi padi tahun 2010. Diperkirakan mencapai 64,90 juta ton GKG. Produksi ini naik 568,37 ribu ton (0,88%) bila dibandingkan dengan angka sementara (ASEM) 2009 sebesar 64,33 juta ton GKG. Kenaikan produksi ini terjadi karena adanya perluasan areal panen 13,71 ribu hektar (0,11%) dan kenaikan produktivitas sebesar 0,39 kuintal (0,78%).
Sekedar informasi bahwa untuk produksi padi BPS secara teratur setiap tahun merilis 5 kali status angka. Yaitu Angka Ramalan I dirilis awal Maret; Angka Ramalan II pada awal Juli, Angka Ramalan III awal Nopember, Angka sementera pada awal Maret dan terakhir Angka tetap pada awal bulan Juli. Setiap kali diumumkan angka terbaru, maka angka lama tidak berlaku lagi.
Rilis produksi padi ini sebenarnya lebih diarahkan sebagai evaluasi capaian sehingga dapat digunakan sebagai panduan dalam upaya untuk dapat mencapai sasaran.
Kalau Angka Ramalan I dibandingkan dengan target tahun 2010 sebesar 66,68 juta ton, maka capaian ini baru mencapai sekitar 97,33% atau masih kurang sebesar 1,78 juta ton (2,67%). Berdasarkan penilaian Kepala BPS, Angka Ramalan I ini merupakan capaian pesimis. Mengapa? Karena bila dibandingkan dengan tahun-tahun lalu peningkatannya sekitar 5% sesuai dengan sasaran pada periode itu. Tapi untuk periode tahun 2010-2014 Kementerian Pertanian mematok sasaran hanya sebesar 3,22%/tahun. Kalau ini tercapai maka Indonesia akan swasembada beras berkelanjutan dan pada tahun 2014 produksi mencapai target 75,70 juta ton.
Dengan Angka Ramalan I, masih ada optimisme sasaran tahun 2010 ini bisa tercapai. Optimisme ini berdasarkan pertama, Luas panen akan meningkat karena masa tanam yang hampir merata di seluruh Indonesia. Bahkan, harga beras yang menguntungkan petani, membuat petani tanpa disuruhpun akan memperluas tanaman padi. Kedua, Ada peluang peningkatan produktivitas karena perubahan pemberian benih dari tender menjadi Bantuan Langsung Benih Unggul (BLBU) serta masih adanya pemberian subsidi pupuk.
Di segi lain, ada hal yang harus benar-benar dikelola dengan baik yaitu rencana kenaikan HET pupuk. Bagaimanapun harga ini akan mempengaruhi penggunaan pupuk oleh petani. Maka para penyuluh harus dibekali hitung-hitungan untuk mampu menjelaskan hubungan antara kenaikan HET pupuk dengan HPP Gabah.
Menurut Ketua KTNA Ir. Winarno Tohir, andaikan HET pupuk naik maksimum sebesar 50%, maka hanya akan meningkatkan biaya produksi bertanam padi sebesar 5%, sehingga petani masih untung 5% dengan kenaikan HPP sebesar 10% pada waktu yang lalu. Bahkan secara nilai setidaknya petani masih mendapatkan keuntungan tambahan sebesar Rp 1,2 juta. Artinya, dengan sudah dinaikkannya HPP gabah diharapkan petani masih menerima keuntungan meskipun HET pupuk naik.
Harus juga diakui dampaknya pasti ada. Misalnya petani akan merasa keberatan. Namun dengan kemampuan penyuluh menerangkan maka petani akan paham. Atau petani mengurangi penggunaan pupuk anorganik dan beralih ke pupuk organik. Artinya penyuluh diharapkan mampu menjelaskan agar petani memaksimalkan penggunaan pupuk organik, kekurangannya baru menggunakan pupuk anorganik dengan jumlah yang rendah. Jadi ada perubahan kalau dulu anorganik dulu, baru organik. Sekarang organik dulu, baru anorganik. Mudah-mudahan para penyuluh cukup terampil membimbingnya.


